Tuesday, July 17, 2012

Warung Bakso Sederhana













Lek Kidi (65th), itulah panggilan akrab seorang tukang bakso yang berjualan di Jalan Kayumanis V, Jakarta Timur. Setiap hari Lek Kidi berjualan bakso demi mencakupi kebuthan kehidupan anak dan istrinya sehari-hari.
Pagi itu hari terlihat sangat bersahabat. Langit begitu tampak cerah, langit biru yang menghampar dihiasi sedikit awan putih. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Lek Kidi pun mulai mempersiapkan segala perlengkapan untuk baksonya. Ia akan segera beranjak dari rumahnya menuju kios tempat ia berjualan setiap harinya yang tak jauh dari rumahnya. Lek Kidi kembali lagi dengan aktivitas rutinnya. Dengan baju kaos abu-abu yang warnanya sudah memudar dan celana kain hitam, dengan umur yang sudah tidak muda lagi dan rambut yang sebagian sudah mulai memutih tidak mengalahkan semangatnya untuk mencari nafkah demi anak istrinya. Surkidi atau panggilan bekennya Lek Kidi adalah seorang penjual bakso sederhana yang berasal dari Jawa tengah tepatnya Solo. Ia sudah hampir 30 tahun lebih tinggal di Jakarta. Lek Kidi  tinggal bersama tiga orang anak dan istrinya. Sekarang ia tinggal di sebuah rumah di Jalan Kayumanis V nomor 15, Jakarta Timur. Di rumah yang sederhana itulah Lek kidi dan keluarga hidup bahagia meskipun dengan kehidupan yang apa adanya dan sederhana. Ia adalah orang yang ramah tamah dan mudah bergaul. Berjualan bakso sudah ia lakoni sejak ia kecil bersama bapaknya. “saya sudah berjualan seperti ini semenjak saya masih kecil. Saya bantu-bantu bapak berjualan bakso”, ujarnya sambil mengemas pesanan bakso pelanggannya.
Lek kidi memang sudah dikenal ramai orang khususnya penikmat bakso. Selama hamper 15tahun ia berjualan tidak jarang ia diminta untuk ketringan acara-acara pernikahan atau sunatandirumah orang.. Dengan gayanya yang bersahaja, ia langsung memenuhi permintaan pembeli dan melayaninya dengan ramah. Semetara, sudah banyak orang juga yang datang kekios baksonya untuk sekedar menyicipi kelezatan bakso Lek Kidi ini. Hampir setiap hari ada pelanggan yang jauh-jauh datang dari bekasi hanya untuk menikmati bakso Lek kidi. Hal ini dikarenakan Lek Kidi yang menjual baksonya dengan harga yang murah dan tidak kalah enak dengan bakso-bakso ternama di luar sana.
Harga bakso yang murah dan enak itulah yang memuat Lek Kidi dikenal banyak orang.  Siang  itu, sekitar pukul 12.30 saya pulang dari kuliah dan saya merasakan lapar serta ingin mensantap makana yang segar-segar seperti bakso. Saya berniat untuk membeli baksonya Lek Kidi. Sampainya saya di kios bakso sederhana Lek Kidi, saya melihat begitu ramainya pengunjung kios yang banyak sedang menunggu baksonya disiapkan oleh Lek Kidi. Ketika kiranya Lek Kidi sedang tidak begitu repot Saya mencoba menghampiri, “Lek bakso satu ya...dibungkus”. Dengan cepat ia menyiapkan bakso pesanan saya. Setelah hampir selesai, dengan medok jawanya ia selalu bertanya “satu saja?”, yang artinya tidakkah saya membeli lebih untuk keluarga dirumah?. Lalu saya pun menjawab dengan cepat “satu saja Lek”. Ia pun langsung menyiapkan pesanan saya dengan cepat.
Berkat keramah tamahan Lek Kidi itulah, pembeli bakso sangat ramai. Ditambah lagi, baksonya yang terasa sangat enak, kalau kata-kata orang sekarang maknyos buaget. Pelanggan Lek kidi tidak hanya orang-orang dewasa, anak kecil pun tak kalah ramainya. Selain itu, bakso yang Lek Kidi jajakan, tidak seperti bakso-bakso lainnya. Bedanya, bakso Lek Kidi ini terkenal dengan murah dan enak. Tidak jarang pelanggan yang datang membeli dengan harga Rp 5.000. “Lek, baksonya lima ribu aja”, ujar seorang anak kecil yag berumur sekitar lima tahun itu. Ia adalah pelanggan tetap Lek Kidi. Kita bisa bayangkan, masih adakah bakso di luar sana yang semurah itu. Bagi Lek Kidi tetap masih ada. Ia tidak terlalu memikirkan untung ruginya, yang penting ia bisa menjual baksonya dengan laris dan pelanggan pun senang. “ya,,,tidak apa-apalah, daripada bakso saya tidak laku terjual. Alhamdulillah masih ada yang beli meskipun dengan harga seperti itu”, ucapnya dengan medok jawa sambil memberikan bumbu ke dalam bakso pesanan pembelinya itu.
Untuk bakso standar harganya, biasanya harga Rp 10.000, itulah yang membuat mahasiswa, atau pelangganan lainnya senang membeli bakso Lek Kidi.  Bakso dengan harga Rp 10.000 ini tidak kalah dengan bakso-bakso diluar sana. Baksonya juga banyak, bahkan mangkok hampir penuh terisi. Dengan 5 butir pentol dan 1 tahu cukup membuat perut kenyang. Meskipun harus menjual baksonya, Lek Kidi tidak penah lupa menyempatkan diri untuk menjalankan kewajibannya. Sering ia terlihat tergesa-gesa ketika sudah waktunya untuk shalat zduhur atau ashar.
Ketika selesai shalat, ia melanjutkan lagi penjualannya. Kadang, sudah ada pelanggan yang menunggu di dekat dapurnyanya. Setelah selesai melayani pembeli yang datang, Rasa lelah dan capek tidak pernah ia pedulikan. Sore hari merupakan waktu beristirahat untuk kebanyakan orang. Akan tetapi, tidak untuk Lek Kidi. Pada malam hari itulah merupakan waktu ia mempersiapkan bahan-bahan keperluan untuk membuat daging baksonya, karena ia hanya berjualan dari pagi pukul 09:00 WIB hingga pukul 17:00 WIB. Itu semua ia kerjakan demi mencari  rezeki untuk menafkahi anak dan istrinya. Namun, itu semua terbayarkan ketika pembeli yang datang silih berganti. Itu semua dapat membayar rasa lelah dan capeknya.
Banyaknya penghasilan juga salah satu hal yang dapat membayar rasa lelah dan capek ketika berjulalan. Penghasilan yang didapat tidak tetap. “jika pembeli banyak, penghasilannya bisa mencapai Rp 800.000- 950.000. Akan tetapi jika pembeli sepi, penghasilan yang didapat hanya Rp 400.000-500.000“ ucapnya sambil membersihkan sisa sayur dan mie yang berjatuhan ketika ia mengemas pesanan. Berjualan di tempat kios sendiri itu lebih menyenangkan, dengan begitu Lek kidi tidak perlu lagi membebani hidupnya dengan membayar sewa kontrak kios untuk berjualan ujar Lek Kididan bisa menghidupi keluar dengan berkecukupan.

0 komentar:

Post a Comment